Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan

1 Agu 2013

 
Rasanya baru kemarin, masih segar dalam ingatan kita saat begitu banyak pesan masuk yang berisi permintaan maaf menjelang Ramadhan. Masih segar dalam ingatan saat orang berbondong-bondong berziarah ke makam leluhur keluarganya menjelang Ramadhan, meskipun kita sama-sama tahu kalau kebiasaan itu belum pernah ada di zaman nabi dulu. Masih segar pula dalam ingatan kita saat ramai polemik penentuan awal Ramadhan yang selalu terulang setiap tahunnya, dan sederet peristiwa-peristiwa yang terasa masih hangat dan rasanya baru terjadi kemarin.

Tidak terasa saat ini kita sudah berada di penghujung Ramadhan, itu artinya tidak lama lagi bulan Syawal akan segera tiba. Ya.. Syawal, bulan yang kehadirannya banyak dinanti oleh kaum muslimin di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Fenomena berebut tiket, hiruk pikuk arus mudik, dan harap-harap cemas turun atau tidaknya THR. Setidaknya hal itulah yang menjadi sorotan menjelang hari raya di negeri kita bernama Indonesia.

Ada fenomena menarik yang perlu kita garisbawahi dan renungi kembali. Di saat hari raya biasanya suasana gembira dan gegap gempita masyarakat kita dalam menyambutnya bahkan ada sebagian dari mereka yang mengartikannya dengan pesta pora. Sibuk berbelanja perabotan rumah tangga hingga rasanya uang belanja sebulan habis tak tersisa dalam sehari saja. Kalau sudah begini tidak ada yang merasa paling diuntungkan kecuali para pemilik toko tempat mereka berbelanja.

Sedikit kita membuka mata melihat dunia menengok keadaan Saudara-saudara kita nan jauh disana. Muslimin Rohingnya di Burma, Palestina, Suriah, dan Mesir negeri asalnya Cleopatra. Mestinya kita prihatin dengan kondisi mereka. Disaat kita bergembira mendengar bunyi rentetan petasan, mereka panik dan menderita karena bunyi rentetan senjata yang ingin menghabisi mereka. Disaat kita bergembira berkumpul bersama sanak saudara, mereka merasa sedih tak terkira karena kehilangan anggota keluarga, dan masih banyak lagi keprihatinan-keprihatinan yang seharusnya bisa membuka mata dan hati kita agar kita bisa lebih bijak dalam ber-hari raya. Agar hari raya kita menjadi penuh makna dan manfaat tidak hanya hura-hura semata.

Saudaraku, bukankah Allah telah mengingatkan kita bahwa sejatinya setiap mukmin adalah Saudara? Lalu dimana rasa empati kita terhadap mereka Saudara-saudara kita jika kita masih berhura-hura sementara mereka menderita? Saudara macam apa kita jika membiarkan makanan tersisa tak berguna sementara mereka kelaparan dan merana? Saudara macam apa kita jika untuk mendoakan mereka saja tidak bersedia apalagi menyumbang harta, jiwa dan raga? Bukankah semua yang kita miliki di dunia ini akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak? Bukankah tidak ada yang bisa kita sembunyikan dengan alasan ini dan itu di hadapan Allah?

Mari Saudaraku, sekali lagi saya mengajak kita sekalian untuk menjadi seorang muslim yang cerdas dan bijak. Bijak dalam segala tindakan dan perbuatan, termasuk bijak dalam berhari raya dan memanfaatkan harta.

SELAMAT (menyambut) IDUL FITRI 1434 H




(nawizam)

10 Jun 2013


Sabtu sore kemarin saya mendapat sms dari teman yang memberitahukan bahwa salah seorang sahabat terbaik kami semasa di SMA dulu telah meninggal dunia di Cikarang. Rasa kaget, bingung, dan setengah tidak percaya-pun bercampur menjadi satu. Saya putuskan untuk menghubungi teman-teman yang lain untuk memastikan kebenaran kabar tersebut namun apa yang terjadi sungguh sangat tidak mengenakkan, kalau istilahnya Pak Kus (guru kimia SMA saya) mungkin ini yang namanya “the law of dilalah” ya, hukum ndilalah. Beberapa teman yang saya kirim sms tidak ada yang memberi balasan hingga kuota paket sms saya habis. Saya putuskan untuk menelpon eh… ndilalah pulsa habis pula, segera saya minta bantuan tukang pulsa untuk mengisi pulsa, eh… ndilalah pending dan nggak nyampe-nyampe. Tring… kemudian muncul ide untuk mengontak teman via BBM, eh.. eh.. tunggu dulu, saya kan nggak punya BB?! haduuuh…. terlalu…

akhirnya kepastian kebenaran kabar meninggalnya sahabat kami tersebut datang lewat facebook, saya lihat di timeline facebook-nya sudah banyak ucapan belasungkawa dan doa dari rekan-rekan yang lain. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… selamat jalan sahabatku, semoga Alloh mengampuni dosa-dosamu, memaafkan kesalahanmu, memberikan tempat yang mulia bagimu, serta melapangkan kuburmu.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ

---o0o---

keesokan harinya saya bersama beberapa teman ta’ziyah ke rumah duka yang lokasinya tidak jauh dari perlintasan kereta api Kutowinangun. Pada kesempatan itu saya bisa berjumpa dengan beberapa teman sewaktu di SMP-SMA (sungguh, ini bukan tujuan utama saya datang ta’ziyah tetapi cukup menyenangkan bisa bersama-sama mereka lagi meski dalam suasana duka). Menjelang dzuhur acara pemakaman selesai dan sayapun kembali ke rumah dengan membawa begitu banyak hikmah dan ibrah. Saya tak habis pikir, jika seandainya ketika itu saya yang meninggal dunia. Timbul pertanyaan besar di benak saya. APA YANG SUDAH ENGKAU PERSIAPKAN? astaghfirullohal ‘adzim….

Bukankah kematian itu pasti? bukankah kematian itu jika sudah waktunya tidak ada lagi kata “nanti”? bukankah kematian itu datangnya tanpa permisi? bukankah…. ah .. sudah sering diri ini melihat kematian tetapi sesering itu pula diri ini lalai mempersiapkan bekal untuk menjemputnya. Cukuplah kematian sebagai nasihat, cukuplah kematian menjadi pengingat bahwasannya dunia ini hanya sesaat dan yang kekal itu adalah akhirat. Yaa Ghoffar… ighfirli..

Sore hari saat berbincang-bincang dengan kakak, saya sampaikan kisah meninggalnya sahabat saya. Saya juga katakan bahwa dia baru saja menikah beberapa bulan lalu, tiba-tiba keponakan saya yang masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar menyaut “alhamdulillah….” karena merasa aneh dan kaget saya berkata padanya “hush… kok alhamdulillah? bukannya innalillah?”. Keponakan saya menjawab “alhamdulillah temen Om meninggal setelah menikah, coba kalau belum menikah terus meninggal? Bakalan berdosa dia Om!Duarrr….. bagai disambar gledhek di siang bolong, dan saya pun bengong… astaghfirulloh… mak jleb sekali perkataan keponakan saya ini. Sekali lagi saya yakin bahwa nasihat datangya bisa kapan saja, dimana saja dan melalui siapa saja, bahkan melalui seorang anak kecil yang belum baligh-pun bisa. Hmm… belum tau dia kalau Omnya sedang berjuang keras untuk menggenapkan separuh diennya (batin saya). :)

Allohumma yassir umurona…
(nawizam)